PROSES PEMASAKAN DAN PENGELANTANGAN ( SCOURING-BLEACHING PROCESS )
Proses pemasakan ( Scouring Process )
bertujuan untuk menghilangkan “kotoran-kotoran” serat kapas yang berupa : minyak, lilin (wax) , debu, knitting oil (oli rajut ), dan kotoran lain yang menempel pada kain. Kotoran serat ini dapat menghalangi penyerapan serat pada proses selanjutnya.
Pada prinsipnya proses pemasakan serat kapas adalah dengan mendidihkan bahan tekstil dengan larutan natrium hidroksida / soda kostik ( NaOH ) dengan konsentrasi tertentu selama waktu dan temperatur tertentu.
Soda kostik mengekstraksi pektin , wax , protein, abu dan kotoran organik lainnya dengan jalan saponifikasi dan diemulsikan menjadi bentuk yang larut dalam air dengan bantuan detergen / sabun yang mempunyai daya pendispersi yang kuat.
Proses pemasakan / scouring ini sangat diperlukan untuk mendapatkan daya serap kain yang baik.
Proses pengelantangan ( Bleaching Process )
bertujuan untuk menghilangkan pigmen-pigmen warna alami pada serat kapas yang berwarna kekuning-kuningan / kecoklatan dengan cara memutuskan rantai ikatan rangkap pada serat menjadi ikatan tunggal sehingga kain kelihatan berwarna putih.
Proses pengelantangan pada serat kapas ( selulosa ) umumnya dengan menggunakan zat oksidator sebagai zat pengelantang. Zat pengelantang ( bleaching agent ) yang bersifat oksidator ada yang mengandung khlor dan ada yang tidak mengandung khlor.
1. Oksidator yang mengandung khlor :
- Natrium Hipokhlorit ( NaOCl )
- Natrium Khlorit ( NaOCl2 )
- Kaporit ( CaOCl2 )
2. Oksidator yang tidak mengandung khlor :
- Hidrogen Peroksida ( H2O2 )
- Natrium Peroksida ( Na2O2 )
- Natrium Borak
- Kalium Permanganat
Pada prinsipnya proses pengelantangan ( bleaching process ) serat kapas 100% adalah dengan mendidihkan bahan tekstil dengan larutan zat pengelantang ( oksidator ) dengan konsentasi tertentu selama waktu dan temperatur tertentu.
Hidrogen peroksida ( H2O2 ) umumnya banyak dipilih sebagai zat pengelantang dibandingkan dengan sodium hipokhlorit dan sodium chlorit , oleh karena mudah penggunaannya dan cocok untuk proses-proses dingin maupun panas , dalam waktu yang singkat (schok) ataupun yang lama.
Hidrogen peroksida terurai membentuk air dan oksigen yang tidak berbahaya dan tidak korosif terhadap mesin-mesin dan bangunan.
Pada umumnya di pabrik tekstil , proses pemasakan ( scouring proses ) dan proses pengelantangan ( bleaching process ) kain rajut kapas 100% dilakukan secara bersamaan untuk penghematan proses baik dari segi waktu , energi dan biaya. Proses tersebut dinamakan proses pemasakan-pengelantangan ( Scouring-Bleaching Process) atau proses Scouring-Bleaching.
Dalam proses Scouring-Bleaching kain kapas 100% umumnya diperlukan 6 macam obat kimia yang digunakan ,yaitu :
1. Zat pengelantang ( bleaching agent ) Hidrogen Peroksida ( H2O2 )
- berfungsi memutihkan kain dengan merusak pigmen warna alami pada
serat kapas.
- membantu menghancurkan biji-biji kapas.
2. Soda kostik ( NaOH )
- untuk melarutkan / mengekstraksi hampir semua kotoran serat kapas 100%
dalam suasana alkali ( proses saponifikasi ). Hasil proses saponifikasi yang
tidak larut dalam air diemulsikan oleh detergen menjadi bentuk yang larut
dalam air dan terdispersi dalam larutan dan mudah dihilangkan dalam
proses pencucian. Kotoran yang tidak tersaponfikasi akan dioksidasi oleh
hidrogen peroksida.
3. Detergen / sabun
- sabun yang dipakai harus tahan dan stabil dalam larutan alkali , dan mempunyai 3 fungdi utama :
a. mempunyai daya basah ( wetting power ) yang baik supaya semua larutan obat terserap ke dalam kain.
b. mempunyai daya emulsi ( emulsification power ) yang baik untuk melepaskan minyak-minyak dan lilin (wax)
c. mempunyai daya dispersi ( dispersing power ) yang baik untuk melepaskan kotoran-kotoran dari permukaan kain dan tetap berada dalam larutan proses.
Contoh : Lissapol NW , Lenetol WAC Conc ( ICI ) , Kieralon OLS ( BASF ) , Erkantol , Diadavin ( Bayer )
4. Stabiliser untuk H2O2
- obat pembantu yang berfungsi untuk mengontrol penguraian hidrogen peroksida selama proses scouring-bleaching ,sehingga mencegah terjadinya :
a. H2O2 habis secara dini sebelum proses scouring-bleaching selesai.
b. H2O2 masih tersisa banyak setelah proses scouring-bleaching selesai.
Contoh : Baystabil DB ( Bayer ) , Stockostab ( SKL ) , Sunstab SF ( ACL ) , Prestogen FC ( BASF )
5. Dispersing-sequestering agent
- obat pembantu yang mengikat ion-ion logam seperti : besi ( Fe3+ ) , tembaga ( Cu2+ ) , calsium ( Ca2+ ) , magnesium ( Mg2+ ) agar tidak menimbulkan resiko yang merugikan pada hasil proses scouring-bleaching. Ion-ion logam ini berada dalam larutan proses dikarenakan berasal dari kondisi air proses yang digunakan ataupun komposisi serat kain. Apabila tidak menggunakan obat pembantu tersebut , kain hasil proses scouring-bleaching kurang putih dan kekuatan serat kapas berkurang.
Contoh : Matexil CA-FE ( ICI ) , Stockovon ( SKL ), Sunchelate ( ACL ) Baysolex ( Bayer )
6. Anti-crease mark agent
- obat pembantu yang berfungsi untuk mengurangi terjadinya
crease- mark/rope-mark atau belang lipatan pada saat proses berlangsung.
Belang tersebut dapat terjadi karena :
a. Gesekan antara kain dengan kain
b. Gesekan antara kain dengan permukaan mesin
c. Posisi kain yang tetap melipat sepanjang proses dari awal sampai akhir
d. Kecepatan putaran kain yang tinggi.
Anti crease-mark agent akan memperkecil daya gesekan antara permukaan kain dengan kain juga antara permukaan kain dengan permukaan logam mesin sehingga memudahkan posisi kain bergulir/bergerak ( tidak terpaku pada tempat yang sama ). Akibatnya kain tidak terlipat dan terus bergerak sepanjang proses dan mencegah terjadinya belang lipatan.
Contoh : Depsolube ACA (ICI)
CONTOH RESEP PROSES SCOURING-BLEACHING KAIN RAJUT KAPAS 100%
R/
- H2O2 50% 4.0 – 8.0 g/l
- NaOH Flake 2.0 g/l
- Stabiliser H2O2 1.0 – 2.0 g/l
- Sabun scouring agent 1.0 g/l
- Dispersing-squestering agent 1.0 g/l
- Anti crease-mark agent 1.0 g/l
Liquor Ratio 1 : 10
Temperatur 98 oC
Waktu 60 menit
Mesin Jet Flow
METODA PROSES SCOURING-BLEACHING KAIN RAJUT KAPAS 100%
Faktor-faktor yang harus diperhatikan selama proses Scouring-Bleaching :
1. Putaran kain tidak boleh berhenti saat proses , dapat terjadi belang lipatan
2. Menghindari adanya busa yang berlebihan ( dapat menyebabkan mesin
macet ). Dapat menggunakan obat anti busa ( defoamer agent ).
3. Jumlah kain yang diproses sesuai dengan kapasitas mesin ( jangan over
loaded )
4. Temperatur proses
5. Waktu proses
Setelah proses Scouring-Bleaching selesai , ada kemungkinan terdapat sisa-sisa H2O2 pada kain. Apabila dilanjutkan ke proses pencelupan ( Dyeing Process ) sisa-sisa H2O2 pada kain akan menyebabkan warna hasil celupan lebih muda dan arah warna akan berbeda. Penambahan ” H2O2 Killer ” akan menghilangkan sisa-sisa H2O2 pada kain sehingga diperoleh hasil celupan yang stabil.
Selanjutnya kain melalui proses netralisasi dengan penambahan asam cuka
( acetic acid ) untuk menghilangkan sisa-sisa alkali ( NaOH ) yang terdapat pada kain yang juga dapat menggangu warna hasil celupan pada proses pencelupan.
Hal-hal apa saja yang akan terjadi apabila proses Scouring-Bleaching tidak sempurna ?
1. Daya serap kain tidak merata.
- Menyebabkan warna hasil celupan tidak solid dan kemungkinan terjadinya
belang warna cukup besar.
2. Derajat putih kain tidak sama
- Menyebabkan kilap (brightness) warna hasil celupan tidak sama.
3. Warna hasil celupan “mengambang” ( cloudy )
- Adanya sisa-sisa minyak/wax pada kain akan menghalangi penyerapan zat
warna masuk ke dalam serat.
4. Kualitas kain grey rendah
- Masih terdapat sisa-sisa biji kapas yang tidak hilang.
PROBLEM YANG TIMBUL DAN CARA PENANGGULANGAN/PENCEGAHAN
1. Poor Handle and rewettability
- Pilih sabun / detergent yang bagus ( mempunyai daya basah , daya emulsi
dan daya pendispersi yang baik )
2. Reproducibility ( daya ulangan )
- Quality Control ( QC ) terhadap kain grey
- Stabilisasi dari zat pengelantangan H2O2
- Sabun yang baik
- Kontrol proses , meliputi : temperatur , waktu , liquor ratio ( vlot ) dan
program di mesin.
3. Kualitas air
- Yang paling berbahaya adalah ion Fe3+ yang dapat mengakibatkan :
a. mengurangi derajat putih kain ( whiteness ) / kain kekuning-kuningan
( Fe3+ > 0.01 ppm )
b. mengakibatkan pinhole ( Fe3+ >> )
diperlukan dispersing-sequestering agent yang baik.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa proses Scouring-Bleaching adalah suatu proses yang penting karena kualitas kain hasil proses ini akan menentukan kualitas kain jadi ( finish good )
ilmu yang bagus
BalasHapusKalau pakai obat celup yg kwalitasnya bagus pasti hasil celupnya juga akan bagus proses celupnya jg akan lancar
BalasHapusSelain pakai anti crease bagaimana cara untuk mengurangi/menghilangkan rope Mark...nuhun
BalasHapus